PERBEDAAN: SATU PIKIR, SATU RASA

(http://inspirasipernikahan.blogspot.com/)

Laki-laki itu hidup dengan pikirannya karena laki-laki lebih berkembang otak kirinya. Sedangkan wanita hidup dengan perasaannya karena berkembang dengan otak kanannya yang berhubungan dengan perasaan. Misalnya ketika anak sakit, ibu akan menangis. Kenapa ibu menangis? Karena ibu merasa kasihan, merasa sayang. Sayang itu perasaan dan itu berhubungan dengan otak kanan. Sedangkan ketika anak sakit, bapak tidak menangis. Bapak akan berfikir, obat apa yang murah. Murah itu angka, angka itu nomerik. Nomerik itu otak kiri. Anaknya bertambah sakit, lalu dibawa kerumah sakit. Dokter berkata harus dirawat selama tiga hari. Tiga hari kemudian anaknya sembuh. Ketika anaknya sembuh ibu akan merasa senang. Senang itu perasaan. Bapaknya yang merasa pusing. Kenapa bapaknya pusing? Lihat kwitansi bagaimana membayarnya? Kenapa pusing? Karena berfikir.

Laki-laki hidup dengan pikiran. Wanita hidup dengan perasaan. Maka dari itu suami berkata pada istri “Ma, setelah saya pikir-pikir tentang masa depan anak kita, saya berfikir tentang biayanya, karena itu kita sekolahkan ke singapura ya, ma! “Coba pikirkan ya mah. Mamanya berfikir. Semakin berfikir tambah pusing. Rumah masih kontrak atau kredit rumah belum selesai. Cicilan mobil belum selesai kok menyekolahkan anak ke Singapura. Istri berkata pada suami “Saya rasa, Pa, anak kita sekolahkan di Jakarta saja. Suami akan berkata “Tapi saya pikir, Ma”. Istri berkata “Saya rasa, Pa” . Tapi saya pikir-pikir loh, Ma. Tapi saya rasa-rasa, Pa. Laki-laki itu pikir, wanita itu rasa.

Beberapa ibu datang pada saya untuk konseling, karena saya juga mengadakan konseling untuk keluarga. Banyak ibu datang pada saya sambil menangis. Lalu saya berkata pada ibu itu “Ibu jangan menangis, karena kalau menangis saya tidak tahu masalah ibu.” Ibu bercerita saja, saya akan berikan nasihat. “Sebentar, Pak Jarot saya nangis dulu”. Setelah lama menangis, si ibu berkata “ Pak, suami saya selingkuh”. Ibu yakin suaminya selingkuh? Ibu melihat suami selingkuh?. “Tidak, pak” Loh darimana ibu tahu kalau suami selingkuh? Dan ibu itu berkata “Saya bisa merasakannya.” Oh, merasakannya. Memang laki itu berfikir, wanita itu rasa.

Laki-laki hidup dengan pikirannya dan wanita hidup dengan perasaannya. Menyikapi segala sesuatu, laki-laki itu dengan pikirannya sedangkan wanita dengan perasaan. Ini semua pasti akan ada perbedaan. Ketika bapak pukul anaknya, dia pikir biar anak tahu peraturan. Tapi si istri berkata “Saya rasa pak, kamu memukulnya terlalu keras.” Saya pikir lho, ma. Saya rasa loh, pa. Satu pikir, satu rasa. Jika terus saling ngotot tidak akan pernah ketemu. Tapi sesungguhnya jika perbedaan itu kita bisa mengelolanya dengan baik, justru akan membuat keuntungan dan keseimbangan yang luar biasa. Kalau Suami yang dengan pikirannya usahanya akan beruntung, tapi dia tidak perhatikan kepekaan perasaan istrinya. dan suami berkata pada istrinya “ Kamu tidak usah ikut campur, kamu tidak tahu apa-apa”. Jangan sampai suami bisa jatuh dan menderita kerugian yang luar biasa. Memang suami lebih pintar otaknya, dia bisa berhitung dan berfikir bagaimana keuntungan, tapi kadang istri punya kepekaan hati yang lebih tajam, sehingga dia punya firasat.

Jadi sebenarnya keduanya perlu dikombinasikan. Suami perlu berhati-hati dengan peringatan istri yang dengan instingnya, dia sebenarnya bisa menganalisa keadaan dengan perasaannya. Dan kalau suami istri bertengkar, tidak mendengarkan satu dengan yang lainnya, maka salah satu bisa terlibat dengan kegiatan-kegiatan ekstrim yang mendatangkan kerugian. Misalnya habis-habisan dalam investasi dan rugi. Tuhan menciptakan pria dan wanita berbeda. Tapi justru supaya ada keseimbangan. Kalau satu optimis yang lain pesimis, maka segala sesuatunya didiskusikan terlebih dahulu, sehingga tercapai keseimbangan. Yang satu menggunakan pendekatan pemikiran, dan yang satu perasaan tidak akan pernah ketemu. Tapi akan bisa bertemu jika di bicarakan baik-baik. Tidak ada yang tidak bisa ketemu kalau dikomunikasikan.

Karena itu kita perlu membangun komunikasi untuk mengatasi perbedaan yang memang ada pada setiap pasangan. Dengan komunikasi, dengan kejujuran, dan kasih maka komunikasi pasti akan terbangun dan keluarga bisa menjadi bahagia. Mari kita menjadi bijaksana dengan menyikapi perbedaan secara arif.




%d bloggers like this: