PERBEDAAN PRIA & WANITA: Harga Dan Nilai

(http://inspirasipernikahan.blogspot.com/)

 

Wanita menilai sebuah hadiah, pemberian tidaklah melulu soal harga, tetapi juga nilai. Betapa banyak saya mendengar seorang wanita yang sedang hamil, meminta pemberian yang secara ekonomi tidaklah terlalu mahal, kadang hanya meminta ‘es cendol’ atau ‘rujak cingur’, tetapi dia puas bahkan cukup puas dengan mencicipi sedikit saja, karena dia ‘mendengar’ betapa susahnya suaminya mendapatkan barang tersebut. Kepuasannya dia dapatkan bukan dari harga barang, tetapi nilai dari barang itu. Jarak yang ditempuh, hujan yang diterobos, kesulitan dengan bertanya sepanjang jalan, bagaimana ‘rujak cingur’ itu akhirnya didapatkan yang diceritakan suaminya, memuaskan jiwanya. Dia mendapatkan peneguhan, betapa suaminya mengasihi dia. Wanita puas dengan ‘MENDENGAR’ cerita tersebut.

Sementara sang suami mungkin mulai berfikir, ini konyol. Setelah segala usaha dan jerih lelah ia hanya makan sedikit, minum seteguk dan puas? Ini sekali lagi menunjukan memang laki dan perempuan memiliki kinerja otak yang berbeda. Wanita menikmati dan cukup puas di lidah/bibir dan mulut serta kuat perasaannya, sedangkan pria kuat di logika dan pikirannya.

Pria dengan cepat pikirannya mengkalkulasi berapa kira-kira harga sebuah hadiah atau pemberian. Pria juga berfikir kalau dia memberi hadiah atau pemberian yang mahal, pasti akan diterima dan orang lain senang. Pria akan merasa PD (Percaya Diri) kalau dia memberikan sesuatu kepada orang lain yang mahal harganya.

Pria tidak terlalu peduli apakah suasana restoran dan pemandangan lingkungannya bagus, asal enak dan murah, mereka akan makan disana. Wanita memasukkan unsur-unsur lain dalam pilihannya menentukan tempat makan, suasana yang romantis, yang ada kolamnya, yang ada lilinnya, yang ada tamannya, yang tidak terlalu bising, dan faktor suasana lainya yang berhubungan dengan perasaan dan bukan perut.

Bagaimana menikah dan bahagia? Hai suami-suami berikan pemberian-pemberian atau hadiah-hadiah kecil, tidak harus mahal, tapi itulah tanda cinta dan perhatian, bahwa engkau mengingat dia.

Ketika istri bercerita bahwa dia membeli baju, cincin, pakaian model terbaru, dan berkata; “Liat Pa modelnya bagus khan? Warnanya nggak norak khan?” Maka laki-laki melihat bukan warna dan model (warna, model, seni itu kemampuan otak kanan), laki-laki memperhatikan dan bertanya “Berapa harga nya ma? “ Harga itu angka/ numeric kemampuan otak kiri.

Kalau ibu bercerita: “Pa aku tadi ke Plaza, ini cincin, kalung, gelang ini warna putih, ini bukan palsu, ini justru emas putih, lagi trend sekarang, yang ini 1 juta, yang ini 500 ribul yang ini 1.5 juta dst” Laki-laki akan memperhatikan angka-angka dan berkata; “ah kayaknya biasa saja ma” (Dalam hati dia berkata: :” Mahal..Aku yang bayar”) Sementara dia mendengar, otak kiri, kemampuan angka bekerja menjumlah semua angka dan mulai pusing.

Lain kalau ibu bercerita:”Pa… tadi aku ke Pasar Pagi, ini baju hanya Rp.50.000,- tapi jangan bilang-bilang ya, ini cincin imitasi, kayak beneran ya, ini cuma Rp20.000,- dst dst” Mayoritas suami akan berkomentar; “Ah tapi kamu cantik lho mau, bagus kok, benar bagus!!” (Dalam hati;” murah’)

Istri-istri untuk siapa dan untuk apa engkau berdandan? Kalau supaya dicintai suamimu, berdandanlah dengan perhiasan yang murah, benar, percaya saya, suami-suami akan senang dengan hal itu. Kalau untuk pamer, untuk gengsi ya lain lagi ceritanya. Laki-laki lebih banyak melihat dengan otak kiri, melihat harga, angka bukan warna, model dan design. (Itu sebabnya kenapa laki-laki juga sering pakai baju warna tidak ‘matching’).

Dalam salah satu lirik lagu karya Nabi Daud berkata; “Berbahagialah yang melakukan urusan dengan sewajarnya”. Berdandan dan perhiasan (emas, mutiara) boleh saja yang penting WAJAR, tidak mahal-mahal, juga tidak harus murah sekali. Bagus tidak berarti harus mahal bukan? Jika pandai pandai memilih. Murah juga bukan berarti murahan, istilah yang tepat yang WAJAR. Murah itu relatif sesuai dengan kemampuan financial seseorang. MAHAL jika sudah melebihi kewajaran yang tidak sesuai kemampuan. Laki-laki tidak nyaman dengan istri yang boros




%d bloggers like this: