Perbedaan Itu Indah

(http://inspirasipernikahan.blogspot.com/)

Survei melaporkan bahwa orang tertarik dan jatuh cinta dengan orang yang berbeda dengan dirinya. Misalnya ada seorang wanita yang lincah, ceria, punya banyak kegiatan dan aktif, dia melihat seorang laki-laki yang diam dan tenang. “Aduh, laki-laki ini cool sekali, kalau ada di sebelahnya rasanya tenang, damai. Maka dia jatuh cinta dan pacaran lalu menikah. Akan tetapi setelah menikah sering ia merasa frustasi. Kenapa suaminya tidak ada bunyinya? Kalau tidak ‘ditabuh’ tidak ada bunyinya. Padahal sejak dulu ia memang pendiam. Bahkan ia dulu tertarik karena melihat laki-laki ini sosok yang tenang, kalem, yang memberi rasa aman.

Demikian pula dari sisi laki-laki. Ia seorang yang pendiam melihat sosok wanita yang banyak berbicara, lincah dan memandangnya sebagai mahkluk yang luar biasa, memberi inspirasi, energik, begitu antusias. Ketika bersamanya dia merasa seperti ikut berapi-api, menimbulkan gairah dalam hal belajar dan bekerja. Dan dia pun jatuh cinta. Perbedaan itu indah lalu membuat mereka jatuh cinta. Tapi sering setelah menikah perbedaan inilah yang menjadi pemicu pertengkaran.

Jadi sering sebenarnya pasangan kita tidak berubah. Dulu juga memang ia banyak bicara. Dulu ia memang pendiam. Sejak pacaran ia juga begitu. Tetapi ketika hati sudah berubah, maka sudut pandang kita berubah. Jadi sebenarnya untuk menikah dan menjadi bahagia kita tidak harus merubah pasangan. Tapi merubah cara pandang kita. Bahkan sebenarnya merubah seperti dulu saat kita masih pacaran, yaitu pandangan cinta. Ketika ada cinta maka perbedaan bukan masalah. Karena kita bisa menyeselaikan perbedaan dengan cinta. Dengan sudut pandang yang baik, bahwa perbedaan itu untuk saling melengkapi. Bahwa perbedaan itu indah. Kalau kita berfikir bahwa perbedaan itu untuk saling melengkapi, maka sebenarnya kita bisa bahagia sekalipun ada perbedaan.

Banyak orang bertengkar sebenarnya bukan karena perbedaannya, tapi karena terluka hatinya. Karena memang sudah ada rasa tidak suka. Kecewa, kepahitan, terluka. Lalu kecewa, luka hati itu membuat sudut pandang negatif. Sehingga semuanya menjadi negatif. Perbedaan menjadi negatif. Perbedaan menjadi sumber pertengkaran. Padahal orang tertarik justru pada awalnya karena perbedaan. Pada awalnya belum ada kecewa dan belum ada kepahitan. Karena itu bagaimana kita membangun keluarga yang bahagia. Kita menjadi keluarga yang bahagia bukan kalau kita berhasil merubah orang lain.

Merubah pasangan kita, merubah anak-anak kita seperti tuntutan dan konsep-konsep kita. Kita bisa menikah, berumah tangga dan bahagia kalau kita bisa menerima setiap orang apa adanya. Ketika diterima, orang lain akan bahagia. Ketika bahagia, orang lain akan berubah. Tetapi jangan menerimanya dalam rangka merubahnya. Engkau akan lelah di tengah jalan. “Sudah berbuat baik, kok dia tidak berubah juga?”

Engkau menerimanya karena engkau mencintainya. Karena engkau mencintainya maka engkau menerimanya. Dan ketika dia diterima, dia bahagia. Dan ketika dia bahagia, dia berubah. Bahkan berubah atau tidak pun kita menerimanya karena kita mencintainya. Maka baik berubah atau tidak berubah kita bahagia. Kalau tidak berubah maka perbedaan kita sikapi sebagai hal untuk saling melengkapi.

Perbedaan itu indah seperti indahnya pelangi. Pelangi terbentuk karena berbagai macam warna yang berbeda. Ada kebiasaan yang berbeda, perlakuan dan kelakuan yang berbeda, itu justru sebenarnya membuat rumah tangga menjadi lengkap dan indah.
Karena itu mari kita menjadi bijaksana, dengan bisa menerima perbedaan yang ada.




%d bloggers like this: