JEMPOL KANAN JEMPOL KIRI

(http://inspirasipernikahan.blogspot.com/)

Cara mudah untuk test, apakah perasaan atau pikiran kita yang kuat sebenarnya sangat mudah. Saya telah mencobanya dan 80% akan benar. Lipatkan tangan saudara, dengan jari-jari dilipat , tiap jari berselang-seling seperti saudara akan berdoa dan lipat tangan. Lakukan dengan santai, secara natural. Nah saudara juga bisa melakukannya sekarang setelah membaca bagian ini. Lakukan dulu dan baru baca lanjutkan perikop selanjutnya.

Nah jangan baca lagi, stop dulu dan betul-betul lakukan dulu. Sudah? Nah coba perhatikan, jempol mana yang ada di paling atas? Jempol kiri atau kanan? Kalau jempol kiri yang diatas, otak kanan saudara yang kuat dan perasaan saudara cukup kuat, kalau jempol kanan yang diatas, otak kiri yang kuat dan pikiran atau logika saudara cukup dominan.

Saudara mungkin tidak percaya? Apa hubungannya? Kok semudah itu? Buktikan saja dengan survey, mulailah meminta teman-teman saudara melakukan lipat tangan dan perhatikan tangannya. Saudara akan menjumpai orang-orang yang dominan perasaannya menaruh jempol kiri diatas dan sebaliknya. Saya mencobanya dalam berbagai pertemuan dan seminar yang melibatkan ribuan orang dan saya menjumpai 80% benar.

Saya juga menjumpai fenomena lain dalam generasi ini, bahwa cukup banyak wanita dengan otak kiri cukup kuat. Faktor pendidikan dan lingkungan, dimana banyak wanita melanjutkan pendidikan hingga Sarjana bahkan Master atau Doktor, tanpa sadar pikirannya, otak kirinya dibangun dengan kuat dan menjadi dominan. Maka lahirlah banyak wanita yang sangat mandiri, dominan, kuat logika dan pikiran, bahkan terkesan cuek, tidak atau kurang romantis, hampir-hampir tidak pernah menangis, sangat tegar, lingkungan yang memaksa untuk mandiri dan merubahnya. Lingkungan dan masa lalu, misal sejak SMP atau SMA sudah koss/ sekolah diluar kota juga banyak membuat orang menjadi sangat mandiri. Hidup dengan lingkungan yang memaksa terus menggunakan logika daripada perasaan, maka secara bertahun tahun telah membangun otak kirinya.

Kebalikannya, kita juga banyak menjumpai laki-laki dengan otak kanan yang berkembang, mereka sangat perasa, kolokan, manja, mudah menangis. Laki-laki dengan perkembangan otak kanan, yang biasanya mereka para artis, seniman, pemusik, pelukis yang memang merupakan kemampuan otak kanan. Ketika menekuni bidang tersebut maka otak kanan dilatih dan berkembang.

Yang indah,saya jumpai fenomena adalah jika laki-lakinya demikian, Tuhan menjodohkan dengan wanita yang mandiri, sehingga saling melengkapi.

Otak kanan, otak kiri, temperamen dasar ini bukan soal baik atau tidak baik, dosa atau tidak dosa, tetapi supaya kita mengenal diri sendiri dan mengenal pasangan kita, dan dengan demikian kita bisa lebih mengerti, lebih menerima dan bersikap tepat, mengucap syukur dengan diri sendiri dan mengucap syukur atas pasangan yang Tuhan berikan dan dengan demikian kita hidup bahagia.

Tuhan memang menciptakan berbeda, Tuhan memang menciptakan demikian. Maka jangan menikah dengan sebuah daftar panjang berisi hal-hal yang harus dirubah oleh pasangan, tetapi terima pasanganmu. Menikah tidak untuk merubah pasangan tetapi mencintai pasangan dan mencintai berarti menerima.

Orang diterima akan bahagia karena kebutuhan dasarnya dipenuhi, kebutuhan untuk diterima dan orang bahagia berubah. Namun saran saya jangan menerima atau berbuat baik karena engkau mau merubahnya, engkau akan capek ditengah jalan, karena merasa sudah banyak berbuat baik, memberi pengertian kok pasangan tidak berubah ubah.

Menikah tidak untuk merubah tetapi untuk saling menerima, saling melengkapi.




%d bloggers like this: